SMK YPPT GARUT
Bagi Siswa SMK YPPT GARUT Harap Log In Atau Mendaftar Dahulu.
Terimakasih ^_^
Pencarian
 
 

Display results as :
 


Rechercher Advanced Search

Gallery


TIME
December 2016
MonTueWedThuFriSatSun
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031 

Calendar Calendar

User Yang Sedang Online
Total 1 user online :: 0 Terdaftar, 0 Tersembunyi dan 1 Tamu :: 1 Bot

Tidak ada

[ View the whole list ]


User online terbanyak adalah 27 pada Tue Jul 26, 2011 7:50 pm
Live Traffic Feed
Live Traffic Feed
Recommended Reading
Live Traffic Map

KARATEKA MENYESUAIKAN DIRI DENGAN LINGKUNGANNYA BUKAN SEBALIKNYA

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

KARATEKA MENYESUAIKAN DIRI DENGAN LINGKUNGANNYA BUKAN SEBALIKNYA

Post by asep rizqi rifangga on Mon Aug 03, 2009 3:28 pm

Salah satu Motto Perguruan sejak berdiri berpuluh tahun lalu berbunyi seperti tertulis diatas. Kalimat ini mempunyai arti dan makna yang dalam dan luas, bukan ungkapan dangkal dan terbatas pengertiannya apalagi ditelaah dari sudut sempit. Bukan ditujukan melulu pada satu obyek, keadaan atau kelompok manusia tertentu. Tetapi umum dan luas. Pengertiannya menyangkut ruang lingkup kehidupan manusia tak terbatas. Segala strata, baik etnis, suku maupun golongan dan status, bahkan bangsa dan kebudayaannya diseluruh dunia. Kaitannya Universal.

Pengertian " Menyesuaikan diri dengan lingkungannya " bukan berarti, dimana kita berada dalam lingkungan dan kondisi tertentu, lalu ikut ikutan hanyut dan terbawa arus pengaruh sekitar tanpa daya dan nalar menghadapi pengaruh lingkungan yang mengalir deras dan bahkan apa saja yang berada disekeliling kita serta merta kita ikuti dengan meninggalkan kepribadian, keyakinan dan budaya yang sudah melekat kuat sesuai dengan jalan dan pandangan hidup kita. Bukan itu maksudnya.

Pengertiannya multi kompleks. Seperti Pepatah mengatakan : ` Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung `. Menyesuaikan diri berarti pada saat, setiap saat, dimanapun kita berada, sanggup beradaptasi, membaur dengan lingkungan sesama manusia bagaimapun corak kebiasaannya, kebudayaannya, adat istiadat bahkan hal yang sangat fundamental dan vital; yaitu : Keyakinan. ( Ibu Agung Theressa ditengah Masyarakat Kalkuta - India yang beda raas dan multi keyakjinan ). Mungkin apa yang bersinggungan dengn diri kita itu bertolak belakang dengan pandangan hidup kita. Prinsip prinsip yang kita yakini. Tetapi pendekatan, penyesuaian diri, cara kita beradaptasi tanpa harus menghilangkan, melepas, meniadakan dan bahkan memungkiri pandangan dan jalan hidup kita ( Way of life ) yang menjadi kekuatan bathin kita, bisa kita selaraskan sehingga tidak menimbulkan gejolak, betapun kecilnya. Ini yang sulit dan perlu jiwa besar.

Menyesuaikan diri berarti lebih menitik beratkan pada cara kita melakukan pendekatan yang penuh ketulusan, saling menghargai dengan toleransi tinggi. Beradaptasi dengan cara dan gaya yang luwes dan jujur, menjaga perasaan sesama kita dengan santun, menjaga rasa saling hormat menghormati, harga menghargai dan berusaha dengan sungguh sungguh dengan hati besar tidak menyinggung, meyakiti, menghina, meremehkan, merendahkan derajat sesama kita apalagi menistakan keyakinan seseorang atau kelompok dengan perbuatan maupun perkataan yang tidak patut.

Menyesuaikan diri dengan lingkungan bukan hal yang mudah. Bisa disimpulkan lebih sederhana; yaitu : Menghargai sesamanya penuh toleransi tanpa pamrih. Keyakinan kuat, adat istiadat, kebudayaan, kebiasaan, etika - tata krama serta mental - moral kepribadian yang kita miliki tetap kita pertahankan dan junjung tinggi. Hidup sebagai manusia bebas dan merdeka yang sadar diri. Bukan bebas dan merdeka berlandaskan pengerian; bebas dan merdeka pula untuk berbuat apa saja dan semaunya, bahkan berakibat merugikan, mencelakakan, menyinggung perasaan sesama kita khususnya merendahkan harga diri pihak lain dan membuat suasana menjadi tidak menyenangkan, mengganggu suasana harmons dan bahkan menyulut perseteruan, rasa benci dan dendam. Ini semua harus kita jauhi, tercermin secara dalam dan luas dalam kalimat : Menyesuaikan diri dengan lingkungannya, bukan sebaliknya.

Satu contoh nyata dan sering terjadi yang bisa mengakibatkan timbulnya konflik horisontal, bahkan tidak jarang api kobaran menjilat kekanan kiri dengan ganas dan membabi buta, amuk masa yang tidak terkendali, membakar, merusak serta menghancurkan sekelilingnya, menimbulkan banyak panik dan mala petaka. Kerugian baik phisik, psikhis serta materi akibat hal yang kadang sepele, karena kita kurang pandainya menyesuaikan diri pada lingkungan.

Memang bisa terjadi, betapapun kita sudah berusaha keras untuk berpegang teguh pada ` Motto Perguruan ` ini, masih juga terkena dampak keberingasan, kebrutalan yang vulgar dari sesama kita yang bermoral dibawah titik nadir, tetapi kita tetap harus bangga bahwa penyulutnya bukanlah kita. Bukan berarti `Motto Perguruan ` yang salah. Tapi, mental karakter dan jiwa manusia terkadang sakit. Terkadang, arti menyesuaikan diri dengan lingkungannya ini sering memberi dampat positif menyangkut keselamatan jiwa sesama kita.

Kita percaya dan kita junjung tinggi martabat setiap manusia yang hakekatnya mempunyai Hak dan Kewajiban yang berimbang, terlindungi ( Hak Asasi Manusia - Human Rights PBB ) yaitu; Hak sama dibawah perlindungan Hukum - Negara Hukum ( Indonesia ? ). Memeluk Agama sesuai keyakinan masing masing. Asalkan Agama dan Keyakinan itu tidak membawa pengaruh buruk bagi kehidupan manusia sekitar dan melawan Hukum Negara atau mengganggu dan merendahkan martabat Agama dan Keyakinan lain dan bahkan mengancam keselamatan dan ketenangan masyarakat umum. Tetapi jangan dicari cari dalih untuk memfitnah dan meniadakan keyakinan orang lain, apalagi secara brutal yang pasti jauh dari kehendak Tuhan Allah Yang Maha Kasih dan Pengayom segala manusia di Bumi. Mustahil Tuhan Yang Maha Penyayang hanya mengistimewakan satu kelompok, satu golongan bahkan satu bangsapun. Tuhan milik kita semua.

Contoh : Sekte Sekte yang dilumuri kegelapan seperti banyak terjadi di luar negeri yang pada umumnya sangat ekstrim diluar kodrat manusia wajar dan sulit diterima pikiran sehat. Sering bahkan mencelakan dan membawa korban para pengikut fanatiknya. Keadaan seperti ini memang harus diiliminir walau manusia itu hakekatnya bebas mengutarakan keyakinannya. Tetapi keyakinan yang membawa keselamatan dan perbuatan baik, bukan yang malahan menjerumuskan dan membohongi sesamanya ikut dalam faham keyakinan yang omong kosong dan cenderung menjadikan pengikutnya fanatik buta.

Sebagai gambaran, kita berkeyakinan Agama A kebetulan hidup dan bertempat tinggal dalam lingkungan Umat Agama B dan C yang lebih dominan dan mayoritas. Disinilah pengertian : Menyesuaikan diri dengan lingkungannya itu amat berarti yang dilanjutkan dengan kalimat; bukan sebaliknya. Artinya; kita harus pandai pandai membawa diri walau tetap konsisten dengan keyakinan kita sendiri, tetapi berusaha keras dan bertanggung jawab untuk tidak sampai melakukan perbuatan, tindakan, perilaku, mengucapkan kata kata yang bisa menimbulkan rasa sakit hati, ketersinggungan atau bisa diartikan melecehkan keyakinan pihak lain. Kepada siapapun, dimanapun dalam suasana apapun, lepas dari persoalan keyakinan dan sudut pandang yang berbeda, kita tetap dan selalu bisa menyesuaikan diri dengan berlaku penuh kontrol serta mawas diri, pandai menempatkan dan menyesuaikan diri secara total demi menjamin adanya hubungan yang saling menghargai dan menghormati, rukun satu sama lain baik secara phisik khususnya bathin. Semuanya tulus tanpa menonjolkan diri; akulah paling baik !

Keadaan seperti ini sudah diterapkan saat Perguruan mulai tumbuh 1967 yang warganya multi etnis, golongan, status dan tentunya, keyakinannya. Dampak positif serta hasil baik terlihat dan buahnya terasa hingga 40 tahun kemudian. Kini!

Kata kata " Bukan sebaliknya " berarti; diri kita yang berada dalam suasana lingkungan yang kompleks. dimana posisi kita mungkin minoritas, kecil dibanding pihak lain, tentunya jangan menuntut yang mayoritas harus menyesuaikan diri dengan kita. Kita harus tahu diri dan menyesuaikan diri kita dengan cara terhormat demi kebaikan. Ini yang memang membutuhkan kekuatan nalar dan kemauan yang kuat serta kesadaran yang dalam. Seni bergaul dan bertetangga yang tinggi. Memang bukan hal yang mudah dan disitulah nilai nilai hidup kita diukur. Kalau kita yang minoritas menuntut yang mayoritas untuk menyesuaikan diri dengan kita, niscaya akan menimbulkan gejolak yang membuat suasana tidak kondusif dan diri kita pasti dimusuhi dan dijauhi. Lebih celaka lagi, bisa diganyang habis. Tuntutan adanya ketidak adilan yang tercermin sehari hari, harus melalui kekuatan hukum yang diperjuangkan secara menyeluruh dan bersama sama. Bukan orang perorangan yang malahan menimbulkan kisruh dan tindakan anarkhis.

Hal ini bukan berarti, mayoritas bisa berbuat semau gue dan menang sendiri. Ini tugas mulia tokoh masyarakat untuk meluruskan pandangan dan cara hidup umatnya. Jangan tokoh masyarakat malahan jadi penyulutnya. Pengawasan Pemerintah untuk menjaga terlaksananya ketertertiban dan kedisiplinan masyarakatnya, perlakuan adil tanpa membeda bedakan masyarakat dan warga negaranya sendiri. Makin majunya pemikiran dan semangat kebersamaan, makin bisa menghargai cara hidup yang harmonis dengan sesamanya. Itulah hakekat manusia yang makin beradab. Untuk inilah kesadaran harus makin kuat untuk bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan. Untuk menghindari dan membantu Pemerintah menjalankan peraturan dan menyikapinya problem masyarakat yang menyangkut kerukunan.

Satu contoh lagi yang lebih nyata. Kita berada dalam lingkungan masyarakat terbelakang, masyarakat pedalaman yang kurang mengikuti kemajuan jaman. Semuanya masih tradisionl kental. Adat istiadat, kebiasaan dan perilaku kehidupannya pasti masih sangat kuat dengan tradisi yang kita kenal. Cara berlaku yang mungkin sangat berbeda dan jauh berseberangan dengan adat istiadat dan etika masyarakt modern yang kita jalankan. Tetapi, karena kita yang minoritas diantara yang mayoritas, maka mau tidak mau harus berusaha keras pandai pandai dan cermat bisa menampilkan sikap, perilaku, juga gerak kode etik perkataan dan perbuatan yang tidak sampai menyinggung perasaan kaum ini apalagi perbuatan yang meremehkan, melecehkan, menghina dan bahkan merendahkan martabat masyarakat pedalaman itu tadi.

Memakai tata cara, etika dan perilaku yang kita anggap beradab, bisa dinilai oleh masyarakat primitif sebagai `Biadab `. Celaka akan muncul apabila kita paksakan perilaku minoritas dikalangan mereka ini tanpa mau ` Menyesuaikan diri `. Kita bukannya malahan menjauhi dan mengasingkan diri yang malahan akan mengali jurang perbedaan yang makin dalam. Mengisolir diri memperbesar rasa kecurigaan antara dua kutub yang berbeda. Sering komunikasi dengan gerak dan symbol symbol tertentu bisa mengakrabkan kita dengan sesamanya karena penyesuaian diri dan ketulusan hati.

Sebagai contoh lain, akibat menyesuaikan diri ini, kemungkinan kita bisa menyelamatkan orang lain walau hanya satu dua orang. Ini sudah sangat berjasa daripada tidak samasekali. Umpama kita terpaksa berada diantara orang orang yang kehidupannya kurang terpuji. Keadaan ini harus kita jalani sementara. Dikalangan Pecandu dan penjahatpun. Menyesaikan diri bukan berarti terjun bebas ikut dan berada dalam pola hidup mereka. Melainkan kita perlu pandai pandai dalam berlaku, berbuat dan berbicara. Tidak lalu menggurui dan merasa paling tahu, paling pandai dan benar serta sok paling bersih. Kita harus sanggup mengikat rasa simpatik dan persahabatan dengan mereka melalui rasa simpatik dan bersahabat yang kita tampilkan dengan tulus dan sanggup menumbuhkan rasa kepercayaan mereka kepada diri kita.

Mungkin dan bahkan bisa terjadi bahwa dengan kematangan pribadi kita, dengan pendekatan bathin tanpa kamuflase, tanpa prasangka buruk, bisa diselamatkan satu - dua diantara mereka untuk ikut hidup sesuai norma norma yang umum. Menjauhi hal yang terlarang. Ini sudah merupakan satu berkah penuh kebaikan yang bernilai luhur. Menyelamatkan satu - dua jiwa sudah merupakan perbuatan yang mulia dan terpuji daripada tidak berbuat samasekali. Apalagi justru menistakan dan merendahkan derajat mereka secara sadis tanpa perasaan kemanusiaan.

Ingat kata kata bijak : Ikan hidup dalam air laut yang asin, tetapi dagingnya tidak ikut menjadi asin ! Demikian.

asep rizqi rifangga
Admins
Admins

Jumlah posting : 238
Points : 708
Reputation : -2
Join date : 29.06.09
Age : 22
Lokasi : Garut

Character sheet
Points:
500/500  (500/500)

Lihat profil user http://smk-yppt-garut.top-forum.net

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik